Wednesday, May 24, 2017

Bagaimana sih satelit bekerja …. ????

Prinsip Kerja Satelit

Satelit adalah stasiun relay yang digantung di langit. Disebut stasiun relay karena fungsi utama satelit adalah merelay sinyal-sinyal yang berasal dari bumi. Sinyal-sinyal yang diterimanya dari bumi itu digeser dulu frekuensinya baru kemudian dipancarkan kembali ke bumi. Jadi pada dasarnya satelit itu berisi rangkaian translator frekuensi, yaitu rangkaian elektronik yang terdiri dari penerima, penggeser frekuensi dan pemancar [perhatikan gambar (1) di bawah ini].


Gambar (1): Diagram blok rangkaian penggeser frekuensi di dalam satelit

Sinyal dari bumi yang sampai ke satelit sangat lah lemah. Sebab sinyal yang dikirim dari bumi hingga mencapai satelit akan melalui lintasan (path) ruang yang sangat jauh sehingga sinyal akan mengalami redaman (free space path loss) yang sangat besar. Redaman ini disebabkan karena sifat radiasi gelombang elektromagnetik itu memancar ke segala arah (seperti bola yang mengembang) sehingga kekuatan sinyal akan melemah sebanding dengan kuadrat dari jarak yang ditempuhnya. Selain itu jarak tempuh itu akan terasa semakin jauh bagi sinyal yang panjang gelombangnya makin pendek. Dengan demikian besarnya redaman ini berbanding lurus dengan kuadrat dari jarak dan frekuensi yang digunakan, dimana secara matematis dituliskan sbb.:

Untuk memudahkan perhitungan, formula di atas bisa disederhanakan menjadi:

L = 32.4 + 20 Log d + 20 Log f

L adalah besarnya Loss atau redaman (dalam satuan dB)
f adalah frekuensi kerja yang digunakan (dalam satuan MHz)

d adalah jarak tempuh antara stasiun bumi dng satelit (dalam satuan km)

Sekedar contoh misalnya frekuensi kerja yang digunakan untuk up-link adalah 6 GHz = 6.000 MHz, dan jarak antara stasiun bumi ke satelit = 36.000 km, maka besarnya redaman pada arah up-link

L-up = 32.4 + 20 Log 36.000 + 20 Log 6.000 = 32.4 + 91.1 + 75.6 = 199.1 dB

Redaman ini sangat besar sehingga sinyal yang diterima di satelit sangatlah lemah. Maka agar sinyal yang sangat lemah ini bisa dipancarkan kembali ke bumi dengan daya pancar yang cukup, dibutuhkan rangkaian penguat yang bertingkat-tingkat. Pada tingkat pertama sinyal diperkuat oleh gain antenna penerima. Output dari antenna yang juga masih sangat lemah kemudian diperkuat lagi dengan LNA (Low Noise Amplifier). Setelah levelnya cukup, sinyal ini kemudian dimasukkan ke rangkaian mixer-1 untuk digeser frekuensinya ke frekuensi L-Band.

Penggeseran frekuensi menurunkan level sinyal, sehingga sinyal harus diperkuat lagi pada tahap ini. Setelah levelnya cukup, sinyal dimasukkan lagi ke mixer-2 untuk digeser lagi frekuensinya ke frekuensi kerjanya (frekuensi down link). Pada tahap ini sinyal diperkuat lagi oleh driver amplifier dan kemudian diperkuat oleh HPA (High Power Amplifier) agar diperolah daya pancar yang cukup besar. Pada tahap akhir, sinyal kemudian diperkuat lagi oleh antenna pemancar untuk menghasilkan apa yang disebut dengan EIRP (Equivalent Isotropic Radiated Power). Besaran EIRP inilah yang kemudian oleh satelit dipancarkan kembali ke bumi.

Sebagaimana dijelaskan pada bab translasi frekuensi, pergeseran frekuensi sama sekali tidak mengubah nilai informasi yang terkandung di dalam sinyal tersebut. Jadi meskipun di satelit frekuensi sinyal di geser sebanyak dua kali, akan tetapi informasi yang terkandung di dalamnya masih tetap utuh (sama sekali tidak berubah). Oleh karena itu menjadi jelas bahwa fungsi satelit dalam hal ini hanya merelay sinyal yang berasal dari bumi untuk kemudian dipancarkan lagi kembali ke bumi.

Pergeseran frekuensi sebanyak dua kali dimaksudkan untuk memperoleh gain yang sangat tinggi. Sebab memperkuat sinyal di satu frekuensi kerja akan menyebabkan amplifier mudah berosilasi (sinyal output masuk kembali ke input). Untuk menghindari hal ini terjadi maka sinyal harus diperkuat pada frekuensi kerja yang berbeda-beda. Dalam gambar (3) diperlihatkan sebuah contoh bahwa gain total satelit adalah sekitar 170 dB. Gain sebesar ini akan sangat sulit diperoleh bila amplifier bekerja pada satu frekuensi kerja. Oleh karena itu penguatan sinyal dilakukan di 3 frekuensi yang berbeda. Pertama sinyal diperkuat pada frekuensi Rx (dengan menggunakan LNA). Kemudian frekuensinya digeser ke L-Band dan penguatan kedua dilakukan pada frekuensi ini. Selanjutnya frekuensi sinyal di geser lagi ke frekuensi Tx dan diperkuat lagi (oleh HPA) hingga mencapai daya pancar sesuai yang diinginkan. Dengan cara ini maka akan diperoleh gain total yang sangat tinggi.

Penguatan sinyal mulai dari antenna penerima, LNA, HPA hingga antenna pemancar disebut dengan Gain Satelit [perhatikan gambar (1) di atas]. Besarnya Gain Satelit telah didesain sedemikian rupa sehingga sinyal yang diterima dari bumi mampu menghasilkan daya pancar maksimum sesuai kapasitas HPA yang terpasang di satelit. Daya output dari HPA selanjutnya diperkuat lagi oleh antenna sehingga diperoleh EIRP yang tinggi. Sebab sinyal yang dipancarkan oleh satelit ke bumi akan mengalami redaman yang sangat besar. Sekedar gambaran misalnya frekuensi down link yang digunakan adalah 4 GHz = 4.000 MHz, maka besarnya redaman pada arah Down Link adalah:

L-down = 32.4 + 20 Log 36.000 + 20 Log 4.000 = 32.4 + 91.1 + 72.0 = 195.5 dB

Redaman down-link ini sangat besar, sehingga sinyal yang diterima di bumi juga sangat lemah. Itulah sebabnya dibutuhkan gain yang cukup besar di stasiun penerima di bumi agar informasi yang terkandung dalam sinyal dapat dideteksi kembali. Apabila kualitas sinyal yang diterima belum sesuai dengan kebutuhan, maka daya pancar di sisi pengirim perlu diperbesar. Dengan cara ini maka secara otomatis daya yang dipancarkan oleh satelt juga ikut membesar. Kenaikan daya pancar di satelit merupakan fungsi linier dari kenaikan daya pancar di pengirim. Sebagai contoh misalnya, bila daya pancar di sisi pengirim dinaikkan 3 dB, maka daya pancar satelit juga akan naik 3 dB. Jika dinaiikan lagi 10 dB maka daya pancar di satelit juga akan naik 10 dB. Demikian seterusnya hingga pada suatu titik dimana kenaikan daya pancar di satelit tidak lagi linier. Pada titik ini daya pancar satelit sudah melampaui batas liniernya. Oleh karena itu penambahan daya di sisi pengirim tidak boleh sembarangan. Ada batas tertentu yang tidak boleh dilampaui. Inilah yang disebut dengan istilah Power Limitted, artinya satelit memiliki daya pancar yang terbatas.

Apabila daya pancar di sisi pengirim sudah tidak bisa lagi dinaikkan, sedangkan sinyal yang diterima masih belum sesuai dengan kebutuhan, maka jalan satu-satunya adalah dengan memperbesar diameter antena penerima. Makin besar diameter antena penerima akan semakin baik, karena sistem penerima akan menjadi lebih sensitif, artinya lebih mampu menerima sinyal-sinyal yang lemah. Namun makin besar diameter antena akan memerlukan lahan yang lebih besar, ukuran yang besar jelas tidak praktis dan harganya pun juga pasti lebih mahal. Oleh karena itu perhitungan daya pancar di sisi pengirim maupun besarnya diameter antena di sisi penerima harus dihitung dengan benar. Untuk itu ada beberapa paremeter yang perlu diketahui. Parameter satelit seperti G/T, Saturated Field Density (SFD) dan EIRP serta peta contour atau foot print umumnya diberikan oleh operator/pemilik satelit kepada para pelanggannya, sehinga masing-masing pelanggan dapat menghitung sendiri apa-apa yang dibutuhkannya.

Gambar (2): Illustrasi redaman up-link dan down-link

Gambar (3): Illustrasi level sinyal mulai dari pengirim, satelit hingga penerima di bumi.
Klik di sini untuk gambar yang lebih besar.

Frekuensi Transponder

Frekuensi yang digunakan pada komunikasi satelit disusun dalam bentuk kanal-kanal yang disebut dengan transponder. Satu satelit bisa memilki banyak transponder, tergantung dari design dan tujuan penggunaannya. Sebagai contoh misalnya Satelit Palapa-D memiliki 40 transponder yang terdiri dari 24 transponder C-band, 11 transponder Ku-band dan 5 transponder Extended C-band. Jumlah transponder sebanyak ini dimaksudkan untuk mengatisipasi kebutuhan pelanggan yang semakin meningkat. Dulu satelit Palapa generasi pertama (Palapa-A1) hanya membawa 12 transponder saja (C-band) karena pada jaman itu (Papala-A1 diluncurkan bulan Juli 1976) kebutuhan akan transponder masih sangat rendah. Contoh lainnya adalah satelit Cakrawarta-1 (diluncurkan bulan November 1997) dimana satelit ini hanya membawa 5 transponder saja (S-band), karena dengan 5 transponder ini sudah cukup untuk menyiarkan 40 program siaran TV berlangganan (Indovision).

Pita frekuensi satelit yang paling populer adalah C-band (4 – 6 GHz) karena sinyal pada frekuensi ini tidak terpengaruh oleh hujan dan bebas dari interferensi sinyal-sinyal microwave teresterial. Alokasi frekuensi pada C-band dirinci dalam gambar di bawah ini, dimana bandwidth satu transponder dibatasi sebesar 36 MHz dan antar transponder diberi jarak (guard band) sebesar 4 MHz (gambar 1b). Gambar 1a memperlihatkan alokasi frekensi dari masing-masing transponder berikut frekuensi tengahnya, sedangkan gambar 1c memperlihatkan frekuensi maksimum dan minimum dari sebuah transponder (dalam gambar ini diambil contoh transponder 7H).

Gambar (1): Alokasi frekuensi transponder C-band

Berdasarkan contoh dalam gambar 1c di atas maka frekuensi maximum dari transponder 12V adalah 4200 MHz, sedangkan frekuensi minimum dari transponder 1H adalah 3700 MHz. Dengan demikian total frekuensi yang dialokasikan untuk seluruh transponder adalah 4200 – 3700 = 500 MHz.

Sementara itu jumlah total transponder seluruhnya ada 24, sedangkan bandwidth masing-masing transponder 36 MHz dan guard band 4 MHz. Jika dihitung secara linier maka akan diperoleh = 24 transpoder x (36 + 4) MHz = 960 MHz. Artinya, untuk 24 transponder @ 36 MHz dan guard band @ 4 MHz dibutuhkan bandwidth total = 960 MHz. Tetapi pada kenyataanya cukup dengan 500 MHz saja kebutuhan itu sudah tercukupi. Artinya kita bisa menghemat bandwidth hampir separonya. Hal ini bisa terjadi karena ada sifat polarisasi gelombang (elektromagnetik) yang bisa dimanfaatkan, yaitu bahwa dua buah gelombang yang polarisasinya saling tegak lurus akan terisolasi satu sama lain. Besarnya faktor isolasi ini adalah sekitar 30 dB atau seper-seribu. Dengan kata lain, dua buah sinyal dapat menggunakan satu frekuensi yang sama asalkan polarisasinya berbeda 90 derajat. Dengan memanfaatkan fenomena ini maka kita bisa menghemat bandwidth hingga separonya.

POLARISASI ANTENA

Isolasi sinyal berdasarkan polarisasi ini dapat dijelaskan sebagia berikut. Perhatikan gambar 2a di bawah ini, dimana antena pemancar dan penerima sengaja dibuat sama-sama tegak (polarisasi = vertikal). Antena pemancar yang dilalui oleh arus listrik akan membangkitkan medan magnet yang melingkari antena pemancar itu. Medan magnet ini kemudian akan menginduksi antena penerima, dana berhubung posisi antena penerima ini juga tegak (vertikal) maka banyak sekali medan magnet yang memotong penampangnya. Akibatnya arus yang ditimbulkan oleh antena penerima menjadi paling maksimal.

Jika misalnya antena penerima ini bisa diputar perlahan-lahan, maka makin miring posisi antena penerima itu, araus listrik yang dihasilkannya akan semakin menurun, karena makin sedikit medan magnit yang memotong penampangnya. Hingga kemudian posisi antena penerima itu tepat tegak lurus terhadap antena pemancar (gambar 2b). Nah pada posisi inilah arus listrik yang dihasilkan oleh antena penerima paling minimal. Ini adalah merupakan prinsip paling mendasar dari elektromgnetisme.

Perbandingan antara daya minumum terhadap daya maksimum yang diterima oleh antena penerima itu adalah sekitar 30 dB. Dengan demikian menjadii jelas bahwa bila antena pemancar dan penerima polarisasinya berbeda sebesar 90 derajad maka akan terdapat isolasi antara antena pemancar dan antena penerima sebesar kira-kira 30 dB. Sifat inilah yang kemudian dimanfaatkan dalam sistem komunikasi satelit. Sebab pemisahan (isolasi) dua buah sinyal sebesar 30 dB (seper-seribu) sangatlah berarti dalam sistem komunikasi satelit.

Sekedar gambaran, jika kita punya penggaris sepanjang 1 meter maka seper-seribu dari 1 meter adalah 1 milimeter. Kita masih bisa dengan mudah melihat seberapa panjang 1 milimeter itu. Tapi bila kita punya penggaris yang panjangnya hanya 1 milimeter maka seper-seribu dari 1 mili meter itu sangat lah kecil sekali, sehingga bolehlah kita abaikan. Analogi seperti inilah yang dipakai dalam sistem komunikasi satelit. Bahwa sinyal yang masuk ke dalam feedhorn antena parabola itu levelnya sangat kecil sekali (sekitar 1 pico watt = 10 pangkat minus 12), sehingga sinyal yang levelnya seper-seribu dari 1 picowatt pastilah sangat kecil sekali sehingga bisa diabaikan.

Gambar (2): Ilustrasi dari pengertian polarisasi antena

Berdasarkan polarisasi inilah kemudian setiap transponder diberi nama sesuai nomor urut dan polarisasinya masing-masing. Selanjutnya secara konsensus, penyebutan polarisasi mengacu sinyal down link. Artinya jika kita menyewa transponder dan diberi satu slot frekuensi pada transponder 5V misalnya, maka itu berarti kita harus mengatur antena penerima kita (down link) pada polarisasi vertikal. Pemberian nama ini juga dimaksudkan untuk kemudahan pointing antenna. Jika kita hendak memasang SNG atau perangkat Up-Link lain, tidak serta merta kita bisa langsung memancarkan sinyal ke arah satelit. Tetapi pertama kali yang harus dilakukan adalah mengarahkan antena parabola ke arah satelit. Inilah yang disebut dengan pointing, yaitu mengarahkan antena ke arah satelit. Pada saat pointing yang diperlukan adalah sebuah sinyal referensi berikut polarisasinya (dalam contoh ini polarisasinya adalah vertikal). Artinya kita membutuhkan sinyal down link pada polarisasi vertikal sebagai referensi untuk memastikan bahwa arah antena kita sudah benar.

Setelah pointing dan referensi sinyal pada polarisasi vertikal itu sudah didapat, maka barulah kita bisa mengirim atau memancarkan sinyal ke arah satelit. Akan tetapi sinyal yang kita pancarkan ini menggunakan polarisasi horizontal. Jadi antara sinyal yang kita kirim dan yang kita terima polarisasinya berbeda 90 derajad. Hal ini dimaksudkan untuk mengisolasi antara sinyal yang kita kirim dengan yang kita terima. Meskipun sinyal yang kita kirim yang dan yang kita terima frekuensinya sudah pasti berbeda, tapi kedua sinyal ini polarisasinya juga dibedakan agar keduanya benar-benar saling terisolasi satu sama lain. Dengan demikian antara sinyal yang kita kirim dan yang kita terima dapat dipastikan tidak akan saling mengganggu.

Gambar (3): Contoh produk Feedhorn Antena atau sering disebut Orto Mode Transducer (OMT) dimana
terlihat jelas bahwa antara Port Tx dan Port Rx polarisasinya berbeda 90 derajad.

Sekedar contoh perhatikan gambar 1a di bagian transpoder 1H. Jika kita mengirim sinyal dng frekuensi uplink (F/U) = 5945 MHz dan polarisasinya adalah Vertikal, maka di dalam satelit sinyal tersebut akan digeser frekuensinya menjadi frekuensi down link (F/D) = 3720 MHz dan dipancarkan ke bumi dengan polarisasi Horizontal.

Untuk mengisolasi Tx dan Rx berdasarkan polarisasinya secara praktis relatif mudah, yaitu dengan membuat Port Tx dan Port Rx saling tegak lurus satu sama lain. Cara ini diimplementasikan dalam Feed Horn antenna sebagimana diperlihatkan dalam gambar (3) di atas, dimana terlihat jelas bahwa posisi waveguide antara port Tx dan Port Rx saling tegak lurus (berbeda 90 derajad). Selanjutnya dengan Feed Horn ini kita bisa memancarkan sinyal ke arah satelit (uplink) dan sekaligus menerimanya kembali pada frekuensi dan polarisasi yang berbeda. Beda frekuensi ini adalah 2225 MHz dan beda polarisasinya adalah 90 derajad.

Perbedaan frekuensi antara Tx dan Rx ini merupakan hasil kerja dari rangkaian Penggeser Frekuensi yang ada di dalam satelit. Frekuensi 2225 MHz ini kemudian dijadikan referensi untuk menghitung besarnya F/U atau F/D bila salah satu dari keduanya sudah ditetapkan. Misalnya sudah ditetapkan frekuensi F/D = 3930 MHz. Itu berarti kita harus mengirim sinyal up link frekuensi = 3930 + 2225 = 6155 MHz.

CROSS POLE

Melanjutkan contoh di atas kita sudah mendapat slot frekuensi F/D = 3930 MHz. Persoalannya kemudian adalah bahwa frekuensi 3930 MHz tersebut masuk dalam transponder 6H dan 6V [perhatikan gambar (4) di bawah ini]. Dengan demikian akan menjadi rancu tentang transpoder mana yang akan kita gunakan. Itulah sebabnya informasi frekuensi saja tidak cukup, sehingga informasi tentang nama transpoder berikut polarisasinya juga harus diikutsertakan.

Taruhlah misalnya informasi yang kita dapat sudah lengkap: frekuensi = 3930 MHz dan nama Transponder = 6V. Nah sekarang kita tahu bahwa pada frekuensi yang sama tetapi polarisasinya horizontal, kemungkinan ada sinyal yang digunakan oleh orang lain. Jika pengaturan polarisasi antena kita tidak tepat maka sinyal orang lain itu akan menganggu kita, dan sebaliknya sinyal kita juga akan mengganggu orang lain. Oleh sebab itu perlu dilakukan kalibrasi polarisasi. Kalibrasi polarisasi ini sering disebut dengan Cross Pole Interference.

Gambar (4): Contoh pemakaian satu frekeunsi untuk dua sinyal yang berbeda polarisasinya

Pengukuran Cross Pole Interference adalah sebuah upaya untuk mengetahui seberapa besar interferensi yang diakibatkan oleh sinyal pada frekuensi yang sama tetapi polarisasinya bersebrangan (cross pole). Cara yang umum dilakukan adalah kita harus mengirim sinyal carrier murni (tanpa pemodulasi) dangan daya pancar yang cukup ke arah satelit (up linkj). Dengan demikian sinyal yang kita pancarkan ini dapat diterima secara jelas di penerima. Kemudian operator satelit (yang umumnya memiliki antena penerima berdiameter besar sehingga mampu menangkap sinyal yang lemah) akan menerima sinyal dari satelit (downlink) di kedua polarisasi yang berbeda (vertikal maupun horizontal).

Pada polarisasi yang sama akan diperoleh level sinyal yang besar, sedangkan pada polarisasi yang berseberangan (cross pole) akan diperoleh level sinyal yang jauh lebih kecil. Level kedua sinyal ini kemudian dapat diukur perbedaannya. Jika perbedaannya masih di bawah 30 dB berarti polarisasi antena belum terkalibrasi dengan tepat. Untuk itu Feed Horn harus diputar-putar sedemikian rupa sehingga diperoleh polarisasi yang tepat. Polarisasi antenna dikatakan sudah terkalibrasi dengan tepat bila perbedaan levelnya lebih besar atau sama dengan 30 dB. Angka sebesar 30 dB (atau seper-seribu) dinilai cukup untuk mengisolasi dua buah sinyal dengan frekuensi sama, tapi polarisasinya berbeda. Dengan demikian kedua sinyal tidak akan saling ganggu atau saling menginterferensi. Gambar (5) di bawah ini memperlihatkan sebuah contoh hasil (print out) pengukuran cross pole dari sebuah antena parabola berdiameter 3.7 meter yang dilakukan oleh operator satelit.

Gambar (5): Contoh print out pengukuran Cross Pole Interference.
Dalam contoh ini perbedaan level sinyal pada marker N dan marker D adalah 32.9 dB

Sumber : http://www.2wijaya.com

https://dedenthea.wordpress.com/2013/06/01/bagaimana-sih-satelit-bekerja/


Friday, March 17, 2017

Proses Pembuatan Sei Khas Nusa Tenggara Timur

Daging se’i (daging asap) merupakan produk olahan tradisional yang telah populer di NTT. Daging se’i yang diolah oleh masyarakat NTT secara tradisional umumnya menggunakan garam dapur, sendawa chili/salpeter, daging sapi dan kayu serta daun kusambi (Schleichera Oleasa) sebagai sumber asap. Pengasapan dengan menggunakan kayu dan daun kusambi memberikan aroma daging asap yang khas dan berpengaruh terhadap warna daging yaitu daging menjadi merah mengkilap atau merah cerah.
Kelebihan yang dapat diperoleh dari proses pengolahan daging se’i adalah bahwa daging yang diasapi dapat disimpan lebih lama dan palabilitasnya tinggi, meskipun derajat kesukaan sepenuhnya tergantung kepada selera konsumen. Umunya dalam pengolahan daging se’i daging yang digunakan masih segar, warna merah cerah, terdiri dari serat-serat bergaris melintang yang arahnya sejajar dan daging harus bebas dari penyakit . Proses Pembuatan Sei sebagai berikut : Proses pelunakan daging: · Proses pengirisan daging selebar ± 2 jari dan setebal ±3 cm tdk terlalu tebal dan tdk terlalu tipis, serta seragam, serta masih utus memanjang.
· Dalam proses pelunakan ini, apabila daging yg digunakan terlalu tua/keras, maka dapat digunakan papain utk merendam daging tsb agar sedikit lunak. Sering juga digunakan cara tradisional dengan cara daging yg telah dipotong dicampur dengan daun papaya atau ditumbuk/digepuk dengan tujuan mematahkan serat-serat daging supaya menjadi lunak. · Dalam proses pelunakan dengan cara ini, upayakan agar daging tidak terlalu hancur karena akan menghasilkan sei yg kurang baik. Cara lain untuk mendapatkan se’I yang empuk adalah dengan mengirisnya dengan arah serat melintang sehingga mudah pada saat dikunyah. Proses kyuring (direndam dalam bumbu) : · Kyuring merupakan proses perendaman daging yg telah diiris dan ditumbuk. Sebagai bahan utk kyuring adalah campuran antara garam dan garam salpeter atau NaNO2 /KNO3/garam sendawa (jika ada) dengan formulasi umum garam (NaCl) sebanyak 1-2% utk 1 kg daging (± 1 sendok makan) dan garam saltpeter 500/mg atau 0,05% untuk 1 kg bahan/daging sapi. · Bahan-bahan tersebut dilarutkan dengan air secukupnya dan dilakukan proses kyuring selama 6-12 jam. · Setelah dilakukan proses kyurin daging diangkat, digantung untuk mengeluarkan air dari daging dan sisa –sisa darah selama 1-2 jam. Proses ini sangat penting sebab apabila daging yang tidk ditiriskan terlebih dulu tapi langsung di asap akan menghasilkan se’I yg berwarna merah kehitaman. Pengasapan: · Setelah daging di kyuring dan digantung kemudian diasap dengan menggunakan tungku batu atau drum pengasap (sesuai alat yang ada) dan sebagai bahan bakarnya adalah kayu api/arang yang berasal dari kayu jenis kusambi.. pada bagian atas daging ditutupi juga dengan daun kusambi, penutupan ini memberikan pengaruh pada aroma seI yang akan di hasilkan. · Pada proses pengasapan, yg perlu diperhatikan adalah kayu api/arang, jangan sampai mengeluarkan nyala api pada saat pengasapan dan jarak antara daging dengan bara api ± 30 cm . Hal ini akan mempengaruhi hasil dimana nyala api akan membuat daging terbakar dan hangus. · Proses pengasapan 15-30 menit tergantung pada panas yang diberikan dan jumlah daging serta besarnya alat yang digunakan. Pada saat mengasap daging harus dibalik-balik agar semua permukaan merata . Penyimpanan : · Daging hasil olah menjadi Sei dapat di simpan lebih lama · Penyumpanan di ruang terbuka dapat dilakukan seperti penyumpanan ikan asap yaitu di letakkan di atas tungku perapian memasak (secara tradisional) · Atau di simpan dalam lemari pendinggin

Tuesday, March 3, 2015

Jalan Negara Timor Raya KM 86 Nyaris Putus, Pemda Belum Turun Tangan

KBRN, Kupang : Yonatan Maubanu warga Desa Boentuka Kecamatan Batu Putih Kabupaten Timor Tengah Selatan mendesak pemerintah setempat, memperbaiki jalan rusak jalan Timur raya kilo meter 86 yang nyaris putus akibat banjir dan longsor .

"Sejak banjir lalu, hingga kini belum ada perhatian pemrintah untuk memperbaikin jalan itu," ujar Yonatan kepada RRI, Selasa (3/3/2015).

Akibat longgsor yang terjadi di ruas jalan negara tersebut, kendaraan bertonase besar tidak dapat melewati jalan yang ada.   

Tidak hanya itu, Yonatan Maubanu juga menyampaikan, akibat tidak adanya penahan banjir sepanjang kali Boentuka menyebabkan tanaman warga seperti mangga, pisang kacang dan jagung digenangi banjir.  

"Hasil pertanian kami pun terendan banjir, inipun belum mendapat perhatian pemerintah," ujarnya lagi.

Menurut Yonatan, sebelumnya sepanjang kali boentuka sudah pernah dibuat penahan dengan membuat alur banjir, menggunakan tumpukan material sirtu yang dipadatkan setinggi 4 meter dengan bantuan ecxavator, namun hanya bisa bertahan sepanjang 2 musim, dan pada musim hujan tahun ini penahan tersebut sudah tidak mampu menahan banjir yang datang.  

"Pernah diperbaiki tempo hari, namun rusak lagi, ini perlu penanganan lebih lanjut," pinta Yonatan.

Yonatan Maubanu juga brharap  agar TTS dapat memperbaiki tanggul penahan banjir  serta segera memperbaiki jalan  timor raya kilo meter 86 yang longsor agar kendaraan besar dapat melewati jalan tersebut.

"Mengingat jalan tersebut merupakan jalan satu satunya yang menghubungkan Kupang dengan Soe, Kefa, Atambua dan Dili – Timor Leste, kami mohon perhatiannya untuk ditindaklanjuti segera," pungkasnya. (ANS)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, August 13, 2014

RRI Kupang Gelar Rapat Teknis Bintang Radio Nasional 2014

KBRN Kupang, Menyongsong pelaksanaan bintang radio tingkat nasional dan asean yang berlangsung di Kota Kupang - Nusa Tenggara Timur, 12 - 19 Oktober 2014. Maka seluruh panitia yang tergabung dalam kepanitiaan BRI Nasional dan Asean 2014 yang berasal dari RRI pelaksana melakukan rapat teknis untuk pertama kalinya di ruang rapat lantai 2 RRI Kupang (13/8/2014).

Rapat tersebut membahas pekerjaan dan tanggung jawab tiap bidang, serta membahas tentang kerja sama dengan media partner.

Kerja sama dengan media partner RRI meliputi Siaran langsung televisi nasional dan lokal, Siaran langsung radio lokal, pembuatan dan penempatan baliho, penggunaan ruang VIP bandara eltari kupang, dan kerjasama penggunaan kendaraan akomodasi peserta.

Dari hasil rapat tersebut Info pelaksanaan, run down acara, penempatan peserta dan lain lain akan di publish pada laman www.rri.co.id Sehingga peserta, official dapat dengan mudah mengakses.

Pelaksanan Bintang radio nasional terbagi dalam 3 bagian penting yaitu pembukaan di rumah jabatan gubernur NTT, penyisihan finalis daerah yang akan berlangsung di aula eltari- kompleks kantor gubernuran, dan grand final yang akan berlangsung di grand mutiara restourant & ballroom Pasir panjang - kota kupang.

Sedangkan peserta nasional, peserta asean, official, dan tamu undangan akan menginap di hotel swiss bell, hotel ima dan hotel aston kupang.

Kegiatan bintang radio nasional dan asean 2014 yang berlangsung di Kupang - NTT merupakan ajang pencarian bakat tarik suara tahunan Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia di dukung oleh Pemda Prov. NTT dan Pemkot Kupang.

Susunan kepanitiaan juga terdiri dari Panitia direktorat RRI, SKPD Pemda NTT, SKPD Pemkot Kupang dan Angkasawan/ti RRI Kupang. (Ans Netu)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, April 29, 2014

JOKOWI JAJAKI KERJASAMA KEBUTUHAN DAGING SAPI DENGAN PEMPROV. NTT

JOKOWI JAJAKI KERJASAMA KEBUTUHAN DAGING SAPI DENGAN PEMPROV. NTT

KBRN Kupang, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo melakakukan kunjungan kerja ke Kupang - Nusa Tenggara Timur, Selasa (29/4/2014), dalam rangka meninjau langsung ketersediaan daging sapi di kupang. Dari hasil kunjungan tersebut  akan menjadi acuan kerjasama dengan pemprov. NTT untuk mensuplay pasokan daging sapi ke DKI jakarta.

Walikota Kupang, Jonas Salean, M.Si, yang turut hadir dalam rombongan kunjungan Gubernur DKI Jakarta ke Pasar Oeba Kota Kupang mengatakan, kunjungan Jokowi ke kupang merupakan murni kunjungan kerja dengan Pemprov.  NTT, menyangkut kerjasama pemenuhan ketersediaan pasokan daging sapi untuk DKI jakarta, dan tidak ada unsur politik menuju Pilpres 2014.

Kunjungan penjajakan kerja sama ini menurut Gubernur NTT, Frans Lebu Raya,  sangat menguntungkan peternak sapi di NTT, sehingga gubernur menghimbau agar peternak terus meningkatkan produktivitas ternak  sehingga mampu mendongkrak perekonomian masyarakat NTT.

Dalam kunjungan kerja tersebut Jokowi melakukan pantauan ke Pasar Kasih Naikoten, RPH  Oeba dan selanjutnya melakukan penandatnganan MoU di Desa Ponain Kab. Kupang. (Ans Netu)

Wednesday, April 23, 2014

PAWAI HIMBAU MASYARAKAT BAHU MEMBAHU BANGUN KOTA KUPANG

PAWAI HIMBAU MASYARAKAT BAHU MEMBAHU BANGUN KOTA KUPANG

KBRN Kupang, Sebanyak 151 Peserta dari berbagai SKPD di lingkup kota kupang termasuk siswa SD, SMP, SMA di kota kupang, memeriahkan pawai memperingati HUT Kota Kupang ke-128 dan HUT daerah kota kupang ke -18 yang jatuh pada Jumat (25/4/2014).

Pawai ini dilepas Walikota kupang, Yonas Salean, M.Si dari Jalan Eltari 1 tepatnya dari rumah jabatan gubernur NTT pukul 13.00 wita, rabu (23/4/2014). Dalam sambutannya walikota kupang mengakui masih banyak yang perlu dibenahi di kota kupang, oleh sebab itu melalui pawai ini walikota meminta semua peserta pawai bukan hanya sekedar berhura hura tetapi selain berpawai juga menumbuhkan rasa persaudaraan antara pemerintah kota dan masyarakat untuk bersama sama dalam membangun kota kupang.

Dalam pawai tersebut juga, Jonas mengatakan akan melaunching program layanan kesehatan masyarakat brigade kupang sehat, dimana warga kota yang dalam keadaan sakit emargensi, petugas kesehatan langsung melayani ke rumah.

Pengamanan pawai dilakukan oleh satuan kepolisian resort kota kupang dan di bantu oleh Sat Pol PP Kota Kupang dan Dinas Perhubungan Kota Kupang. Dalam pawai ini juga, walikota kupang beserta wakil walikota kupang, Hermanus Man beserta para kepala dinas, camat, dan lurah sekota kupang turut berjalan kaki sepanjang 10 KM Start dari Jln. Eltari 1 dan Finish di Jln. Trans Timor Pasir panjang kota kupang. Turut hadir dalam pawai tersebut Kepala RRI Kupang, Enderiman Butar Butar, SP. (Ans Netu)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, April 21, 2014

20 RIBU WARGA IKUT PAWAI PASKAH PEMUDA GMIT 2014

20 RIBU WARGA IKUT PAWAI PASKAH PEMUDA GMIT 2014

KBRN Kupang, Sekitar 20 ribu warga kota kupang dari berbagai dedominasi Gereja Kristen Protestan, Katholik, Islam, Hindu dan Budha mengikuti pawai paskah 2014 dengan tema " Berbahagialah Orang Yang Membawa Damai " dan dengan sub tema " NTT Damai Indonesia Damai ". Kegiatan pawai paskah ini start dari gereja anugerah eltari dan finish di gereja talitakumi pasir panjang kota kupang, Senin (21/04/2014).

Pawai paskah ini dilepas oleh wakil gubernur NTT, Benny Litelnoni dan dihadiri oleh gubernur NTT, Frans Lebu Raya, walikota dan wakil walikota kupang, dan unsur pimpinan daerah prov. NTT dan kota kupang beserta tokoh agama yang ada di kota kupang.

Kegiatan ini diikuti oleh 127 kelompok peserta dengan berbagai peran mulai dari fase kejadian hingga fase pentakosta.

Rute pawai paskah ini dari jln. Eltari, jln.Sudirman, jln, Moh. Hatta, jln. A. Yani hingga jln. Trans timor. Kegiatan ini juga di dukung oleh LPP RRI Kupang.(Ans Netu)
Powered by Telkomsel BlackBerry®