KBRN Kupang, Sekitar Pukul 07.30 Wita (9/8/2013) kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur dilahap si jago merah, menurut saksi yang di hubungi RRI bahwa belum mengetahui penyebab kebakaran,namun asal api sudah di ketahui dari lantai 3 kantor gubernur tepat didepan tangga naik , sehingga seluruh lantai 3 bagian depan sudah terbakar habis. Api juga sudah turun melahap ke lantai 2 di Ruang Urusan Kepegawaian Setda Prov. NTT dan Ruang Protokoler dan sampai sekarang api masih terus menjalar ke ruang belakang kantor gubernur dan Aula Eltari.
Pemadam Kebakaran dari Kota Kupang terus melakukan upaya pemadaman dibantu oleh mobil mobil tangki dan para PNS di lingkup Kantor Gubernur NTT terus melakukan upaya penyelamatan arsip arsip. Petugas keamanan dari Polresta Kupang juga terus menjaga kelancaran masuk keluar mobil pemadam kebakaran dan lalu lintas di jalan eltari 1. (Ans Netu)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Wednesday, August 14, 2013
TRI PRASETYA RRI
TRI PRASETYA RRI
1. Kita harus menyelamatkan segala alat siaran radio dari siapapun juga yang hendak menggunakan alat tersebut untuk menhancurkan negara kita . Dan membela alat itu dengan segala jiwa raga dalam keadaan bagaimanapun juga.
2. Kita harus mengemudikan siaran RRI sebagai alat perjuangan dan alat revolusi seluruh bangsa indonesia, dengan jiwa kebangsaan yang murni , hati yang bersih dan jujur serta budi yang penuh kecintaan dan kesetiaan kepada tanah air dan bangsa.
3. Kita harus berdiri diatas segala aliran dan keyakinan partaiatau golongan, dengan mengutamakan persatuan bangsa dan keselamatan negara, serta berpegang pada jiwa proklamasi 17 agustus 1945.
Tak Cuma Sinyal, Radio Timor Leste pun Kuasai Perbatasan
Yudhianto - detikinet
Rabu, 28/11/2012 12:19 WIB
Atambua - Wilayah perbatasan Atambua dan Timor Leste tak cuma memiliki masalah interferensi sinyal dari operator negara tetangga yang mengganggu pengguna seluler Indonesia. Sinyal siaran radio di perbatasan pun ikut mereka kuasai.
Pengembangan infrastruktur di daerah terpencil -- seperti di wilayah perbatasan Atambua dengan Timor Leste -- memang menyulitkan. Hal ini salah satunya lantaran kontur geografi wilayah tersebut yang kadang lebih didominasi oleh lembah dan perbukitan.
Kondisi inilah yang dihadapi oleh RRI Atambua, stasiun radio pemerintah di daerah dekat perbatasan Indonesia yang berada di kota Atambua, Nusa Tenggara Timur.
Kontur geografi kota Atambua yang dikelilingi oleh perbukitan dikatakan oleh Ans Netu selaku staf teknis dan multimedia RRI Atambua, cukup mengganggu penyebaran informasi yang disampaikan RRI Atambua ke seluruh wilayahnya.
"Infrastruktur yang terbatas membuat siaran kami tidak mencapai daerah perbatasan," ujarnya.
Hal itu ditegaskan oleh Arnold Klau, Kepala Sub Seksi Siaran RRI Atambua. Menurutnya, masyarakat di sekitar wilayah perbatasan tidak dapat menerima siaran karena infrastruktur yang terbatas. Alhasil, mereka malah lebih sering menikmati siaran dari negara tetangga, Timor Leste.
Arnold menambahkan, kemungkinan untuk memperluas jangkauan siaran sejatinya bisa dilakukan dengan memanfaatkan radio komunitas yang sudah lama ada. Namun sayangnya, radio komunitas tersebut telah lama dicabut izin siarannya oleh Balai Monitoring Spektrum Kementerian Kominfo.
Padahal menurut Ans Netu, radio komunitas yang saat ini berada di tiga lokasi Atambua tersebut yakni di Silawan, Tasifeto Timur dan Tasifeto Barat, dapat dimanfaatkan guna memperluas jangkauan siaran RRI Atambua hingga ke wilayah perbatasan.
Sehingga masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah perbatasan dapat merasakan penyebaran informasi yang dilakukan oleh RRI Atambua, bukan malah menikmati konten dari negara tetangga.
(ash/ash)
Wahh, Masyarakat Perbatasan Lebih Kenal Radio Negara Tetangga
Andina Librianty - Okezone
BELU - Radio komunitas yang merupakan bantuan dari pemerintah untuk wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste yang ada di tiga wilayah Atambua yaitu Silawan, Tasifeto Timur, dan Tasifeto Barat, izinnya sudah dicabut.
Alhasil, minimnya siaran radio lokal dibanding negara tetangga membuat masyarakat perbatasan lebih mengetahui informasi tentang negara tersebut dibandingkan Indonesia.
Mulai dari Sumber Daya Manusia (SDM), hingga berujung izin siaran yang tidak ada menjadi faktor "matinya" radio komunitas Indonesia di perbatasan.
"Minimnya SDM, listrik, izin siaranya juga belum ada. Jadi tidak begitu bertahan dan siaran radio komunitas itu sudah berhenti lama," kata Kepala Subseksi Siaran RRI Atambua Arnold Klau, di kantor RRI Atambua, Belu, NTT, Rabu (28/11/2012)
Pihak RRI Atambua menyayangkan pemancar radio komunitas yang masih bisa digunakan, tapi terbengkalai begitu saja. "Kalo tidak dipakai pemancarnya bisa untuk RRI, jadi daerah di perbatasan bisa dijangkau. Sehingga kami bisa relay siaran RRI di perbatasan," jelasnya.
Lebih lanjut, diungkapkan Staf Teknis Studio dan Multimedia RRI Atambua Ans Netu, pihaknya tanpa sengaja mengetahui bahwa pemancar radio komunitas itu tidak lagi digunakan.
"Kami sedang jalan-jalan dan tahu kalau ada pemancar radio komunitas yang tidak lagi berfungsi. Radio komunitas itu sudah macet, padahal alat-alatnya masih bagus, tapi tidak digunakan," pungkasnya.
Berkurangnya jangkauan siaran radio Indonesia, masyarakat di perbatasan menjadi lebih sering menikmati siaran radio dari Timor Leste. RRI Atambua pun berharap bisa memperluas jangkauan siaran, sehingga Warga Negara Indonesia yang tinggal di wilayah perbatasan bisa lebih banyak mengetahui informasi tentang negaranya.
Apalagi, dengan berhentinya siaran radio komunitas di perbatasan, otomatis masyarakat di sekitarnya tidak bisa mendapatkan informasi yang memadai mengenai Indonesia. "Orang-orang perbatasan lebih banyak tahu tentang negara sebelah (Timor Leste) daripada Indonesia," jelas Ans.
(amr)
Kasus Pemukulan Wartawan RRI Atambua Berakhir Damai
KBRN, Atambua : Kasus pemukulan Wartawan RRI Atambua, Ferdynandus Asy oleh Pengawas SPBU Halifehan, Alo, berakhir damai setelah melakukan musyawarah dan mufakat di Kantor RRI Atambua, Jln. Eltari, Senin (11/2/2013).
Setelah 5 hari ditangani Polres Belu, dalam musyawarah yang di pimpin oleh Kepala RRI Atambua, Enderiman Butar Butar dan dihadiri oleh pelaku, korban, pemilik SPBU Jhon Tanur, dan rekan wartawan, akhirnya bersepakat agar kasus pemukulan tersebut tidak perlu sampai ke meja hijau.
“Cukup sampai disini, sebab bagaimanapun sebagai warga Belu yang menganut adat Belu yang artinya Kawan, tetap menganggap pelaku sebagai bapak, dan korban sebagai anak,” ungkap Kepsta RRI Atambua, Enderiman Butar Butar.
Pelaku pemukulan, Alo, meminta maaf kepada rekan-rekan wartawan dan juga meminta kepada korban untuk dapat menyelesaikan permasalahan slah faham itu secara Bapak dan Anak.
Dalam musyawarah itu akhirnya disetujui untuk diselesaikan secara Adat Belu yaitu sangsi adat sebesar Rp2 juta untuk pelaku dan korban menarik aduan di Polres Belu dengan membuat berita acara perdamaian yang di tanda tangani pelaku dan korban di atas materai Rp 6 ribu, dan sebagai saksi Kepala RRI Atambua, Pemilik SPBU dan 2 rekan wartawan dari Harian Timor Express dan Harian Pos Kupang.
Setelah melakukan musyawarah dan bermufakat di kantor RRI, pelaku dan korban didampingi Kepala RRI Atambua dan Pemilik SPBU menuju ke Polres Belu, untuk menarik aduan dan kemudian diatur secara adat dan kekeluargaan.
Pemilik SPBU Jhon Tanur berharap kedepan para rekan wartawan untuk membantu memantau dan melaporkannya jika terjadi pelayanan di SPBU miliknya yang tidak sesuai dengan standar prosedur pengelolaan SPBU. (Ans/DS/BCS)
RRI Atambua Gelar Green Radio Bersama Anak-anak
KBRN, Atambua: Sebagai salah satu wujud kepedulian RRI terhadap lingkungan, RRI Atambua menggelar kegiatan Green Radio yang melibatkan anak-anak sebagai penerus bangsa.
Kepala RRI Atambua, Enderiman Butar Butar mengatakan, kegiatan Green Radio yang bekerjasama dengan Yayasan St. Anggela Haliwen pada Jumat (22/3/2013), sengaja melibatkan anak-anak PAUD dan Taman Kanak-kanak.
“Kepedulian terhadap lingkungan harus ditumbuhkan atau ditanamkan sejak anak usia dini,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, RRI menyumbangkan sebanyak 500 anakan Mahoni siap tanam di lahan milik Yayasan St. Anggela Haliwen.
Selain kegiatan Green Radio yang di ikuti oleh sekitar 30 Angkasawan-angkasawati RRI Atambua dan 80 orang anak PAUD dan TK ini, Kepala RRI Atambua juga melakukan kesepakatan bersama Suster Anselmia Gogu, Osu Selaku Ketua Yayasan St. Anggela Haliwen untuk melakukan peluncuran acara Radio Anak yang akan di selenggarakan perdana pada 11 April 2013 mendatang.
Menurut rencana, peluncuran acara Radio Anak ini juga akan melibatkan Satgas Pamtas RI - RDTL Yonif Linud 503 Mayangkara yang juga berkomitmen untuk membantu pendidikan anak diwilayah perbatasan serta Satlantas Polres Belu untuk sosialisasi Disiplin berlalulintas.
“Kegiatan Green Radio ini mendapat sambutan hangat dari seluruh Guru dan Ketua Yayasan sehingga mereka meminta untuk tahun kedepannya jika ada kegiatan serupa dapat melibatkan Yayasan mereka kembali,” tutur Enderiman. (Ans/DS/AKS)
Prosesi Jalan Salib Hidup Berjalan Khidmat
KBRN Atambua: Didalam tradisi Umat Katholik di Atambua, Nusa Tenggara Timur, setiap perayaan Jumat Agung adalah prosesi jalan salib hidup. Paskah sendiri adalah untuk memperingati wafatnya Yesus Kristus.
Prosesi jalan salib dilakoni oleh puluhan pemuda, salah satu diantaranya berperan sebagai Tuhan Yesus dan yang lainnya seperti serdadu. Tangan dirantai sambil berjalan dan diarak oleh pasukan yang memakai pakaian tentara Kerjaan Romawi.
Prosesi jalan salib hidup untuk mengenang kesengsaraan Yesus yang mati di kayu salib. Pengorbanan Yesus ditiang salib sebagai bentuk pengorbanan demi umat. Yesus disalib untuk menebus dosa umat manusia.
Dalam sejarah, prosesi ini melewati 14 perhentian. Pertama Yesus dijatuhi hukaman mati setelah diserahkan oleh Pilatus kepada para serdadu, sampai pada perhentian ke-14 Yesus dimakamkan.
Ibadah prosesi jalan salib hidup di Gereja Katedral Maria Imaculata Atambua di pimpin oleh Suster Anastasia, FSGM dan turut mengikuti ibadah ini juga, Uskup Keuskupan Atambua Mgr. Dr. Dominikus Saku dan sekitar ribuan umat katholik di Kota Atambua.
Prosesi ini di selenggarakan di Gua Bunda Maria Para Beriman Toro, Atambua, Jumat (29/03/2013) mulai pukul 08.00 WITA. Untuk pengamanan ibadah, melibatkan pihak jajaran kepolisian dari Polres Belu, di bantu Tentara Nasional Indonesia, Satgas Pamtas RI-RDTL Yonif Linud 503 Mayangkara dan Orang Muda Katholik (OMK) Katedral Atambu. (Sgd/ Netu/Foto: Netu/AKS)
Subscribe to:
Posts (Atom)













